Home » Uncategorized » MAKALAH ILMU MEDIA PEMBELAJARAN MEKANISME PRODUKSI MEDIA PEMEBELAJARAN

MAKALAH ILMU MEDIA PEMBELAJARAN MEKANISME PRODUKSI MEDIA PEMEBELAJARAN

on time

Archives

Categories

kalender

December 2012
M T W T F S S
     
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Jam

MAKALAH ILMU MEDIA PEMBELAJARAN
MEKANISME PRODUKSI MEDIA PEMEBELAJARAN
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Media Pembelajaran
Dosen Pengampu: Wahyu Kurniawati, S.Si.

upy-logo

Disusun Oleh :

Harminah Safitri 11144600129
Rohmah Nurhayati 11144600143
Khairya A. 11144600157
Nur Muhar F. 11144600164
Kelas A4-11

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA
2012

MEKANISME PRODUKSI MEDIA PEMBELAJARAN
PENGERTIAN
Sebelumnya sudah disinggung bahwa naskah itu berguna untuk dijadikan penuntun dalam produksi. Naskah adalah rancangan produksi. Naskah adalah bentuk tertulis dari pemikiran seseorang atau kelompok orang yang telah disistemasikan dan dimaksuskan untuk menyampaikan pesan (message) demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.
Fungsi tulisan atau naskah:
Perwujudan gagasan/pemikiran seseorang/kelompok
Medium penyampaian pesan
Ekspresi budaya masyarakat
Bukti pencapaian tingkat peradaban
Ragam naskah/tulisan menurut sifat informasi:
Factual
Fiksisonal
Faksional
Ragam naskah/tulisan berdasarkan prosesnya:
Canon (Kitab Suci)
Penulisan kreatif (fiksi: puisi, cerpen, drama, dan Feature)
Penulisan non kreatif (nonfiksi: berita, dan ilmiah)
Ragam naskah/tulisan menurut pendekatan media dan metode penulisan:
Naskah Ilmiah (makalah, artikel jurnal,skripsi, thesis, disertasi, laporan penelitian dan ilmiah populer)
Naskah Jurnalistik
Laporan Penelitian
Ragam tulisan menurut cara pengungkapannya
Narasi adalah tulisan yang bertujuan menyampaikan atau menceritakan rangkaian peristiwa yang dialami manusia berdasarkan perkembangannya dari waktu ke waktu. Tulisan narasi mempunyai pola: dimulai dari awal peristiwa, tengah peristiwa dan waktu ditutup dengan akhir peristiwa.
Ada dua jenis narasi yaitu:
Narasi informative/ekspositoris adalah bentuk narasi yang menampilkan fakta apa adanya, bersifat objektif. Tulisannaya cenderung bersifat eksposisi, menggunakan bahasa yang lugas, dan konfliknya tidak begitu kelihatan.
Narasi literer adalah tulisan bentuk narasi yang merupakan hasil imajinasi penulis sehingga lebih tepat disebut sebagai karya seni kreatif, dan bersifat subjektif. Contoh karya jenis ini mudah didapatkan pada cerpen dan novel.
Penanda tulisan bentuk narasi:
Berupa cerita tentang peristiwa atau pengalaman manusia
Kejadian atau peristiwa yang disampaikan dapat berupa peristiwa atau kejadian yang benar-benar terjadi, dapat berupa semata-mata imajinasi atau gabungan keduanya
Berdasarkan konflik. Jenis tulisan narasi tidak akan menarik tanpa adanya konflik.
Memiliki estetika karena isi dan cara penyampaiannya bersifat sastra, khususnya yang berbentuk fiksi.
Menekankan susunan kronologis.
Biasanya memiliki dialog
Langkah penulisan:
Yakinilah bahwa cerita yang akan ditulis mempunyai nilai.
Tulislah peristiwa itu dengan urutan yang jelas.
Gunakan dialog dimana mungkin dan dimana perlu.
Pilihlah detail cerita secara teliti.
Pilih dan tetapkan pusat perhatian.

Eksposisi adalah tulisan yang bertujuan menjelaskan atau memberikan informasi tentang sesuatu. Tulisan ini dapat menggunakan susunan kronologis, sususnan ruang, dan susunan logis. Tetapi yang paling dominan adalah bentuk susunan logis. Eksposisi yang cenderung dimaksudkan untuk mempengaruhi pendapat pembaca dengan cara memaparkan data pembuktian atas penalaran disebut argumentasi. Eksposisi yang cenderung menonjolkan rincian atau detail atas sesuatu, seperti halnya buku petunjuk, disebut diskripsi. Contoh tulisan bentuk eksposisi adalah buku-buku petunjuk, tentang berbagai hal, sebagian besar buku teks, laporan, dan skripsi.
Pola penulisan:
Dalam pembuatan tulisan bentuk eksposisi biasanya menggunakan pola sebagai berikut: (1) definisi, (2) klasifikasi, (3) perbandingan dan pertentangan, (4) analisis fungsional.
Cara penandanya:
Berupa tulisan yang memberikan pengertian dan pengetahuan.
Menjawab pertanyaan tentang apa, mengapa, kapan, dan bagaimana.
Disampaikan secara lugas menggunakan bahasa baku.
Menggunakan bahasa yang memberikan kesan tidak memihak, netral dan tidak memaksakan kehendak penulis terhadap pembaca.
Umunya menggunakan saluran logis.
Langkah penulisan:
Pilihlah sumber materi tulisan secara teliti.
Sadarilah selalu tujuan penulisan.
Ingat selalu calon Pembaca.
Pilihlah organisasi penyajian sesuai dengan tujuan penulisan.

Deskripsi adalah tulisan yang tujuannya memberikan perincian atau detail tentang objek sehingga dapat memberikan pengauh pada sensitivitas dan imajinasi pembaca atau pendengar sehingga mereka bagaikan ikut melihat, mendengar, merasakan, atau mengalami langsung objek tersebut.

Dua jenis diskripsi:
Diskripsi Ekspositorik, adalah tulisan yang bertujuan menjelaskan sesuatu dengan perincian yang jelas sebaimana adanya tanpa menekankan unsur impresi atau sugesti kepada pembaca.
Diskripsi Artistik, adalaah tulisan yang mengaraah kepaada pemberian pengalaman pembaca bagaikan berkenalan langsung dengan objek yang disampaaikan dengan jalan menciptakan sugesti dan impresi melalui pilihan kata dan kalimat yang dapat menggugah perasaan pembaca.
Ciri penanda tulisan diskripsi:
Berusaha memperlihatkan detail atau perincian tentang obyek.
Member pengaruh sensitivitas dan membentuk imajinasi pembaca.
Disampaikan dengan gaya memikat dan dengan pilihan kata yang menggugah.
Banyak memaparkan tentang sesuatu yang dapat didengar, dilihat dan dirasakan sehingga obyeknya pada umumnya benda, alam, warna dan manusia.
Organisasi penyampaiannya lebih banyak menggunakan susunan ruang (sparcial order).
Langkah penulisan:
Pilih dan perhatikan detail dengan teliti.
Gunakan pilihan kata yang tepat.
Argumentasi adalah tulisan yang bertujuan meyakinkan atau membujuk pembaca tentang kebenaran pendapat atau penyertaan penulis dengan jalan memberikan pembuktian, alasan, serta ulasan secara obyektif dan meyakinkan.
Penulis dapat mengatakan atau mengajukan argumennya dengan:
Contoh-contoh
Analog
Sebab akibat, atau dengan pola deduktif atau induktif
Ciri penandanya:
Bertujuan meyakinkan orang lain (eksposisi memerikan informasi).
Berusaha membuktikan kebenaran sesuatu pernyataan atau pokok persoalan (eksposisi hanya menjelaskan)
Mengubah pendapat pembaca.
Fakta yang ditampilkan merupakan pembuktian.
Langkah penulisan:
1. Kumpulkan data dan fakta.
2. Tentukan sikap atau posisi anda terhadap masalah.
3. Nyatakan pada bagian awal atau pengantar tantang sikap Anda.
4. Kembangkan penalaran anda dengan urutan dan kaitan yang jelas.
5. Uji argument anda dengan jalan mencoba mengendalikan diri anda berada pada posisi kontras.
6. Hindarilah penggunaan istilah yang terlalu umum atau istilah yang dapat menimbulkan prasangka atau melemahkan argument anda.
7. Menetapkan titik ketidaksepakatan yang akan diargumentasikan.
IDENTIFIKASI RAGAM TULISAN
Berita :
Informasi actual
Mengandung unsure 5 W + 1 H
Mengandung unsur :
Penting (sosial pragmatic).
Menarik (memenuhi kebutuhan psikologis)
Aktual,prominence,magnitude,konflik,dll.
Konteks:
Politik,Ekonomi,Sosial,Kultural,dll.
Penulisannya lugas: obyektif, dan bahasa denotative.
Jenisnya:
Menurut kemendesakan waktu penulisan : straight news dan laporan.
Menurut tingkatan kepentingannya : hot news dan soft news.
Struktur Penulisan :
Straight News menggunakan pendekatan piramida terbalik.
Laporan gaya penulisannya relative bebas.
Ditulis oleh wartawan media yang bersangkutan.
Terikat pada kode etik jurnalistik.
Cerpen, novel dan sejenisnya :
Informasinya bersifat fiksional.
Subyektif/imajinatif.
Bahasanya asosiatif.
Wujudnya: prosa, prosa lirik, puisi.
Sosialisasi nilai-nilai universal.
Gaya penulisannya relative bebas (gaya, struktur, dll)
Feature :
Informasinya bersifat faksional.
Jenis:
Feature yang bersifat insane.
Feature tentang sejarah.
Feature mengenai tokoh/biografi.
Feature mnegnai perjalanan/travelog.
Feature tentang ilmu pengetahuan.
Feature yang mengajarkan sesuatu.
Mengandung Unsur:
Kreativitas.
Informative.
Menghibur.
Subyektif.
Menekankan aspek kepuasan batin/jiwa.
Tidak harus mengandung unsure 5W + 1H.
Bahasa penulisannya bersifat sastrais
Penulisannya dapat dilakukan oleh free lancer (penulisan lepas) uangnya besar.
Artikel/opini:
Bersifat ilmiah populer.
Mengandung gagasan original dari penulisnya.
Analisi permasalahan dan Problem Solving.
Menggunakan bahasa baku
Terkait dengan tema actual.
Panjang karangan antara 4-6 halaman (Untuk Koran).
Essay:
Sosialisasi nilai kemanusiaan/kemuliaan/universal.
Mengubah kesadaran jiwa.
Gaya penulisannya bebas,cenderung sastrais.

Syarat Dasar Menjadi Penulis:
Mempunyai idealisme dan kegelisaan untuk memperjuangkan nilai (universal)
Mempunyai rasa ingin tahu yang besar.
Mempunyai komitmen jelas terhadap sesuatu yang berkaitan dengan nilai yang akan diperjuangkan.
Mempunyai konsisten sikap terhadap nilai.
Mempunyai banyak referensi (literature maupun pengalaman)
Mempunyai semangat pengabdian yang tinggi.
Mempunyai tanggung jawab profesi yang tinggi.
Jujur.
Syarat Teknis Menjadi Penulis:
Mempunyai ketrampilan bahasa yang baik.
Kemampuan penguasaan media
Rajin mengikuti perkembangkan situasi lingkungan
Kreatif/pandai membaca peluang
Tidak mudah putus asa
Mempunyai human relation yang baik.
(http://vythanobytha.blogspot.com/p/penulisan-naskah-media-pembelajaran.html.15 September 2012.12:34)

Dengan naskah kita dipandu harus mengambil gambar, merekam suara, memadukan gambar dan suara, memasukan musik dan FX, serta menyunting gambar dan suara itu supaya alur penyajiannya sesuai dengan naskah, menarik dan mudah diterima oleh sasaran, semua kegiatan itu disebut kegiatan produksi.
Kegiatan produksi ini memiliki tiga kelompok personil yang terlibat, yaitu sutradara atau pemimpin produksi, kerabat kerja dan pemain. Ketiga kelompok personil itu mempunyai tugas dan tanggungjawab yang berbeda namun semuanya menuju satu tujuan yaitu menghasilkan program media yang mempunyai mutu teknis yang baik.
Program produksi memiliki tingkat kerumitan yang berbeda antara media yang satu dengan media yang lainnya. Produksi audio dapat dilakukan oleh seorang sutradara dengan dibantu dua orang teknisii dan beberapa orang pemain. Dalam produksi film bingkai jumlah kerabat kerja yang diperlukan sudah lebih banyak, kecuali kerabat kerja untuk merekam audionya sutradara perlu dibantu pula oleh juru kamera, dan grafik artis. Pada produksi TV/vidio dan film jumlah kerabat kerja tersebut sudah menjadi lebih kompleks. Selain itu, juru audio dan grafik artis diperlukan juga juru kamera lebih dari seorang, juru lampu, juru rias, pengatur setting, juru perlengkapan dan juru catat. Karena kompleksnya pekerjaan, sutradara perlu dibantu oleh pembantu sutradara.

PRODUKSI AUDIO
Studi Produksi
Program audio direkam didalam suatu studio produksi atau seiring juga disebut studio rekaman. Studio ini terdiri dari dua ruangan, yaitu ruang kontrol dan studionya, yang keduanya dibatasi dinding berjendela kaca sehingga orang yang ada di dalam kedua ruangan itudapat saling melihat.
Ruang kontrol dilengkapi alat rekaman. Ruangan ini biasanya terdiri dari alat rekaman audio, alat pemutar audio, alat pemadu suara, dan tombol pengatur suara. Disamping itu, ruangan tersebut memiliki alat untuk penyunting suara.
Ruang Studio adalah sebuah ruangan yang kedap suara. Ruang ini dilengkapi dengan berbagai mikropon, tempat untuk duduk pemain, alat musik, misalnya piano, perlengkanpan untuk membuat FX, dan pengeras suara. Kedua ruangan tersebut dihubungkan dengan interkom, yang memudahkan orang di ruang ontrol berkomunikasi dengan orang-orang di dalam studio.
Pembagian tugas dalam produksi
Sutradara
Sutradara adalah pemimpin produksi. Tanggungjawab baik buruknya produksi ada pada sutradara.
Sebelum produksi dimulai, seorang sutradara harus mempelajari naskah dengan teliti. Setelah itu, ia mempunyai interpretasi yang baik terhadap setiap adegan dari naskah itu.
Ia juga harus dapat menghayati benar perwatakan yang dibawakan oleh masing-masing pelaku dalam naskah itu. Ia juga harus dapat membayangkan musik dan sound effect yang bagaimana yang diperlukan untuk mendukung terciptanya suasana seperti yang dikehendaki oleh naskah itu.
Setelah naskah dipelajari, sutradara bertugas mengatur perbanyakan naskah yang akan diproduksi. Kertas yang digunakan seyogyanya kertas yang agak tebal supaya tidak mudah terlipat dan tidak menimbulkan suara dalam produksi nanti.
Sutradara harus memilih pemain yang akan membawakan naskah sesuai perwatakan tiap pelakunya. Sutradara yang telah biasa memimpin produksi biasanya telah mempunyai koleksi pemain, dan sudah mengenal benar kemampuan masing-masing pemain sehingga ia dapat memilih pemain yang paling sesuai untuk diserhi tugas memegang peran tertentu. Bila ia belum mengenal pemainnya ia harus memilih pemain tersebut melalui audisi atau seleksi.
Bial ia telah menentukan pemain untuk tiap peran, sutradara harus segera membagikan naskah kepada mereka supaya mereka dapat mempelajarinya. Dalam program audio pemain tidak dituntut untuk menghafalkan naskahnya. Karena dalam rekaman nanti mereka dapat membaca. Yang penting adalah mereka harus dapat menghayati perwatakan yang harus dibawakan, dan dapat membaca naskah sesuai perwatakan itu.
Sutradara harus memesan studio rekaman sesuai dengan prosedur yang berlaku supaya pada saatnya nanti, studio tersebut tidak dipakai oleh orang lain dan dalam keadaan siap untuk digunakan. Setelah studio rekaman diperoleh dengan pasti, sutradara menyampaikan undangan tertulis kepada semua pemain dan kerabat kerja dengan menyebut secara jelas jam, tanggal, dan tempat rekaman itu. Undangan ini jangan diberikan dalam waktu yang sangat mendesak.
Sutradara bertugas memilih musik yang sesuai dengan suasana yang akan diciptakan. Dia perlu datang ke perpustakaan lagu dan mencoba lagu yang dicarinya satu persatu untuk mendapatkan lagu yang benar-benar sesuai dengan naskah. Bila ia telah menemukan lagu itu naskahnya harus ditandai dengan tinta yang jelas mencantumkan nama lagu, nomor piringan hitamnya, track keberapa, berapa panjangnya.
Sutradara juga harus mencari sound effect yang sesuai denagan suasana naskahnya.bila naskahnya ingin menggambarkan seorang direktur yang pergi dengan mobil, tentunya ia harus memilih suara mobil sedan yang baik dan bukannya suara truk atau pick-up. Seperti halnya dalam memilih lagu, setelah FX tadi ditemukan ia harus memberi tanda pada naskahnya dengan nama FX, nomorpiringan hitam, track keberapa, berapa panjangnya. Jika FX itu tidak diambil dari rekaman atau harus diciptakan sendiri, ia harus mencoba bunyi yang akan diciptakannya, misalnya ketukan-ketukan pintu, langkah kaki, dering telepon. Ia harus menyediakan peralatan yng diperlukan untuk menciptakan suara-suara itu, menentukan tempat dalam studio itu dimana bunyi-bunyi itu akan diciptakan, berapa jarak mikropon dari sumber bunyi itu dan sebagainya.
Sutradara harus dapat bekerja sama dengan teknisi dengan baik. Teknisi adalah orang yang akan membantunya dalam rekaman. Betapapun bagusnya gagasan sutradara tentang program yang akan diproduksi bila teknisi atau operator yang akan merekam tidak paham tentu hasilnya kurang baik. Karena itu, ia harus membicarakan naskahnya dengan teknisi atau operator yang akan membantunya itu. Ia juga harus membicarakan keluar masuknya musik, keluar masuknya FX, effect apa yang ingin diperoleh dari musik dan FX itu, berapa lama musik dan FX itu diperlukan dan sebainya. Selanjutnya, ia harus membicarakan bagaimana FX itu akan diperoleh, serta menunjukan bagian-bagian musik dan FX yang akan digunakan. Ia juga harus memberi rahukan kepada teknisi berepa mikropon yang akan digunakan dan jenis nikropon yang bagaimana yang diperlukan.
Kerabat Kerja
Dalam produksi audio, kerabat kerja yang diperlukan hanya dua orang operator. Seorang operator melayani pengaturan tombol rekaman serta bertugas mengatur jalannya pita rekaman pada alat perekam. Ia juga bertanggungjawab membuat saluran yang menghubungkan mikropon dengan mesin perekam.
Seorang operator lainnya bertugas menyiapkan musik dan sound effect yang akan digunakan dalam rekaman. Ia harus memasangkan piringan hitam pada meja putar dan memasangkan jarum tepat pada track musik atau FX yang diperlukan.
Kedua teknisi atau operator itu bekerja sasuai dengan petunujuk sutradara.
Pemain
Pemain ialah orang-orang yang ditunjuk untuk membacakan naskah. Biasanya seorang pemain hanya memegang satu peran saja dalam suatu naskah tertentu.
Seorang pemain yang telah menyanggupi untuk ikut rekaman berkewajiban mempelajari naskahnya. Ia harus menghayati benar peran yang akan dibawakannya. Ia harus melatih diri membaca naskah supaya dalam rekaman nanti tidak terdengar kesan bahwa naskah itu dibaca, melainkan terdengar seperti orang bercakap atau bercerita. Dalam latihan membaca ini bila perlu ia dapat memberi tanda-tanda baca pada naskahnya.
Pemain harus mengikuti petunjuk sutradara dalam membawakan perannya. Seorang pemain tidak boleh berkecil hati kalau membacanya dianggap kurang betul oleh sutradaranya dan harus berusaha membetulkannya sesuai petunjuk sutradaranya.
Pada waktu \yang telah ditentukan pemain harus datang tepat pada waktunya. Jam menggunakan studio terbatas. Katena itu, pemain harus berusaha supaya ia tidak menyebabkan terbuangnya waktu penggunaan studio denga sia-sia.
Pelaksanaan Produksi
Pada waktu rekaman yang telah ditentukan, seorang sutradara, harus datang lebih awal dari para pemainnya. Segera setelah sampai distudio ia bertugas mengecek apakah studio telah siap pakai. Ia harus bertemu dengan operator untuk mengecek apakah mereka telah menyiapkan segala perlengkapan yang diperlukan.
Sutradara seyogyanya menyambut dengan ramah setiap pemain yang hadir. Jangan samapai ada pemain yang merasa tidak memperoleh perhatian dari sutradara. Hal itu dapat mempengaruhi permainannya.
Setelah pemain lengkap sutradara segera memimpin latihan. Latihan dapat dimulai dengan latihan kering, yaitu latihan yang dilakukan di luar ruang studio dan dikerjakan tanpa musik dan FX. Yang diutamakan ialah pemahaman isi naskah, penghayatan peran masing-masing pemain, dan cara membaca naskah.
Tiap pemain membaca bagian masing-masing sesuai dengan urutan naskah. Sutradara akan membetulkan cara membaca yang belum betul. Dalam hal ini sutradara harus dapat memberi contoh, misalnya bagaimana cara menangis, cara tertawa, dan sebagainya.
Setelah latihan selesai pemain dipersilahkan masuk ke studio. Sutradara dan kerabat kerja ada di ruang kontrol. Sutradara memberi petunjuk dimana pemain hatus duduk atau berdiri, dan mikropon yang mana yang digunakan oleh masing-masing pemain.
Sutradara memberi petunujuk tanda-tanda yang digunakan dalam memimpin produksi. Pada umumnya petunjuk dilakukan dengan menggunakan tangan, pemain melihat tanda-tanda itu melalui jendela kaca tembus pandang yang membatasi ruang studio dan ruang kontrol. Tanda yang biasa digunakan, misalnya sutradar menunjuk seorang pemain artinya pemain itu harus mulai membaca teks naskahnya, meletakkan tangan di leher seolah-olah menggorok leher berarti rekaman terhenti karena ada kesalahan dan harus diulang, mendekatkan kedua tangannya berarti pemain harus lebih dekat dengan mikropon, menggerakan tangannya naik turun berarti membacanya harus diperlambat, dan sebagainya.
Langkah berikutnya ialah mengadakan tes suara. Setiap pemain diminta membaca didepan mikropon secara bergantian. Tinggi rendahnya suara diatur supaya tidak terlalu lemah dan juga tidak terlalu keras. Dalam mengukur level suara ini sutradara dan operator mengecek suara itu melalui jarum di alat rekaman. Setelah level suaranya ditentukan, pemain bersangutan harus mengingat-ingat jarak mulutnya ke mikropon dan volume suara yang digunakan waktu tes suara tadi. Dalam rekaman nanti level suaranya harus diusahakan supaya sama dengan level waktu tes suara.
Sekarang semua pihak telah siap untuk melakukan latihan basah. Pemain diminta membaca peran masing-masing sesuai naskah, di depan mikropon. Dalam latihan ini musik dan FX sudah digunakan benar-benar. Dalam latihan ini sutradara berpihak sangat kritis, setiap ada kesalahan atau kejanggalan sutradara menghentikan latihan dan memberi petunjuk untuk perbaikan. Adegan itu kemudian diulang kembali. Latihan seperti ini biasanya lebih lama dari rekaman sesungguhnya.
Setelah latihan berjalan baik rekaman segera dilaksanakan. Bila dalam rekaman ini masih juga terjadi kesalahan, sutradara dapat melakukan perbaikan dengan cara:
bagian yang salah dihapus dan adegan yang salah diulang kembali. Bila hal ini yang dilakukan, jalannya rekaman biasanya agak lama, namun pada saat rekaman selesai telah diperoleh program final.
adegan yang salah diulang kembali tanpa menghapus kesalahan tadi. Bila hal ini yang dilakukan rekaman dapat berjalan agak cepat. Setelah selesai rekaman, sutradara dan operator masih harus mengedit kembali hasil rekaman itu untuk membuang bagian-bagian yang tidak terpakai.
Setelahrekaman selesai sutradara berkewajiban mengucapan terima kasih kepada seluruh pemain dan operator.

PRODUKSI FILM BINGKAI
Jenisnya
Produksi progam film bingkai memiliki dua jenis kegiatan produksi yang dapat dilakukan secara berurutan.
Produksi visual
Pada bagian ini bagian visual yang meliputi gambar-gambar grafis dan caption serta gambar gambar yang dapat diambil dari benda sesungguhnya atau modelnya diproduksi semuanya.
Produksi audio
Produksi audio yaitu narasi dan music serta sound efek.Cara memproduksinya sama dengan memproduksi progam audio yang telah diuraikan dibagian terdahulu.Bahkan biasanya lebih sederhana. Hal yang perlu diperhatikan ialah narasi dan music serta fX-nya harus sesuai dengan visualisasinya.
Alat yang diperlukan
Produksi bagian visual memerlukan berbagai alat dibawah ini.
Kamera
Ada berbagai jenis kamera yang dapat digunakan. Hal yang penting Anda harus mempunyai keyakinan yaitu pertama, Anda harus yakin bahwa juru kamera Anda dapat mengoperasikan kamera itu dengan baik. Kedua, kamera itu harus dapat menghasilkan gambar yang diinginkan. Bila anda tidak dapat mencari juru kamera dan anda sendiri kurang paham bagaimana memotret dengan kamera yang rumit, Anda dapat menggunakan kamera instamatic. Kamera yang rumit memang lebih luwes dan mempunyai kemampuan yang lebih besar, tetapi memerlukan keahlian yang cukup untuk menggunakannya. Namun, kamera apa pun yang digunakan apabila Anda atau juru kamera cukup berhati-hati dalam membuat komposisi gambar potret,tentu akan diperoleh gambar yang baik.
Film yang Digunakan
Dalam membuat film bingkai, digunakan film khusus untuk film bingkai, misalnya Kodachrome. Film untuk film bingkai ada yang berwarna, ada pula yang hitam putih. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di negara maju memang film hitam putih dan berwarna tidak memberikan perbedaan efektivitas belajar yang berbeda pada diri siswa. Namun, biasanya film berwarna lebih menarik untuk dilihat.
Waktu membeli film, perlu Anda perhartikan di mana pengambilan gambar akan dilakukan. Film yang digunakan dengan sinar matahari, lampu flash biasa dan lampu pijar biasa, berbeda dengan film yang digunakan dengan mengambil sinar lampu neon.hal ini yang perlu diingat waktu membeli film ialah ASA film itu. Bila Anda mengambil gambar-gambar di pantai atau di udara terbuka yang sinarnya terang gunakan saja film yang ASa-nya sedang, misalnya 64. Akan tetapi, jika akan mengambil gambar di tempat tertutup dengan sinar lampu yang kurang terang, lampu menggunakan flash, gunakan film yang ASA-nya tinggi, misalnya 1000.
Tiang Penyangga untuk Mengkopi (Copy Stand)
Bila Anda akan memotret gambar grafis atau caption, biasanya gambar tersebut diletakkan di atas meja dan gambar diambil dari atas. Mengambil gambar seperti ini tanpa tiang penyangga sangat sukar karena kita akan cenderung bergerak, sehingga gambarnya tidak akan tajam. Untuk keperluan itu disediakan tiang penyangga khusus yang disebut Copy Stand. Di samping tiang penyangga Anda juga memerlukan dua buah lampu untuk member sinar objek yang akan difoto. Lampu tersebut juga diletakkan pada tiang penyangga dan dipasang di sebelah kanan dan kiri gambar atau grafis yang akan difoto.
Alat Perekam Audio
Untuk merekam narasi dan bunyi-bunyi yang lain, kalau memungkinkan, seyogyanya dilakukukan di studio rekaman seperti yang digunakan untuk merekam progam audio. Apabila tidak dapat menggunakan fasilitas seperti itu, Anda dapat merekamnya dengan menggunakan fasilitas seperti itu, Anda dapat merekamnya dengan menggunakan fasilitas seperti itu, Anda dapat merekamnya dengan menggunakan mesin perekam biasa (tape recorder). Tentu saja mutu rekaman seperti itu tidak akan sebaik kalau rekaman yang dilakukan di studio. Perekaman dengan alat seperti itu sebaiknya dilakukan di kamar tertutup pada malam hari pada saat suasana sunyi. Dengan demikian, sehingga tidak banyak suara-suara yang tidak diperlukan ikut terekam.
Kerabat kerja
Seperti halnya dalam produksi audio, dalam produksi film bingkai ini pun diperlukan seorang sutradara yang memimpin produksi dan bertabggung jawab atas baik buruknya hasil produksi.
Sutradara perlu dibantu oleh kerabat kerja sebagai berikut.
Seorang juru kamera yang terampil dalam menggunakan kamera 35 mm. Tugas juru kamera ini mengambil gambar sesuai petunjuk sutradara.
Seorang atau lebih grafik artis. Grafik artis ditugasi untuk membuat caption dan menggambar benda, peristiwa, bagan dan sebagainya yang akan dipotret . grafik artis ini harus telah menyelesaikan gambar-gambar sebelum saat produksi tiba.
Seorang atau dua operator yang bertugas membantu sutradara dalam merekam narasi dan music.
Pemain yang akan memperagakan perilaku- perilaku tertentu yang akan diambil gambarnya sebagai model.
Pelaksanaan Produksi
Dalam membuat progam film bingkai tentunya Anda perlu membuat judul progam film yang anda buat itu. Judul progam film bingkai dibuat dengan membuat caption yang bertuliskan judul progam. Caption biasanya dituliskan pada sebuah karton yang berukuran panjang:lebar = 4:3. Nama-nama penulis naskah,sutradara, dn kerabat kerja lain yang dicantumkan di dalam progam, harus dituliskan pada karton dengan ukuran seperti di atas.
Sering kali benda-benda atau peristiwa-peristiwa yang perlu disajikan melalui film bingkai yang dibuat sukar dijumpai. Dalam hal seperti itu benda atau peristiwa itu harus digambar. Gambar-gambar itulah nanti yang dipotret.
Hampir semua jenis kamera dapat digunakan untuk memotret caption dan gambar-gambar grafis. Namun, lensa kamera yang dipakai itu harus ditambah dengan lensa close up. Dapat juga menggunakan lensa makro. Apabila menggunakan lensa close up, lensa close up tersebut dipasang diujung lensa kamera Anda. Sering kali tidak cukup dengan menambah satu atau dua lensa close up. Apabila objek yang dipotret kecil, Anda perlu menggunakan lebih dari satu lensa close up. Apabila menggunakan lensa makro, lensa pada kamera harus dilepas dan digantikan dengan lensa makro.
Gambar grafis yang akan dipotret dapat diletakkan di atas meja. Di kiri dan kanan gambar perlu dipasang perlu dipasang dua buah lampu yang mempunyai reflector. Lampu dipasang sedemikian rupa sehingga arah lampu itu membentuk sudt 45 derajat dengan tiang penyangga kameranya. Sinar dari kiri dan dari kanan harus sama. Tiang penyangga kamera ditempatkan ditenggah gambar sedemikian rupa sehingga kamera tepat berada di atas gambar itu.
Sebelum menggambil gambar perlu diingat bahwa diagfragma kamera perlu diatur. Untuk mengambil gambar dengan menggunakan lensa close up, seyogyanya gunakab pembuka lensa (lens opening) berukuranf/8, atau lebih kecil lagi. Untuk menyesuaikan kecepatan dengan pembuka lensa tersebut, gunakan karton berwarna abu-abu. Tumpangkan karton itu di atas gambar yang akan dipotret. Sinar pantulan dari karton itulah yang diukur. Setelah karton abu-abu itu Anda ambil mungkin sekali light meter pada kamera akan berubah; hal tersebut tidak perlu dihiraukan. Ukuran sinar dari karton abu-abu tadi akan sesuai untuk gambar-gambar yang akan dipotret. Pemotretan benda-benda atau peristiwa-peristiwa secara live, yaitudengan diambil dari benda atau peristiwa sesungguhnya, dilakukan dengan cara seperti yang biasa ditempuh dalam memotret.
Perlu diingat bahwa dalam memotret film bingkai, diafgrafma harus diperbesar setengah stop. Misalnya, jika pada saat diukur dengan light meter diagfragma menunjukan angka 11, maka supaya hasil pemotretannya terang, diagfragma perlu dibuka setengah stop lagi yaitu antara 8 dengan 11.
Untuk mengambil benda, orang atau peristiwa yang penting, yang pengambilannya sukar diulang lagi, misalnya tempatnya jauh, objeknya orang besar yang sukar ditemui, dan sebagainya, disarankan pengambilannya dengan menggunakan rasio yang cukup. Artinya, objek tersebut diambil beberapa kali dengan mengubah-ubah diafragmanya, dan nanti hasil yang terbaiklah yang dipakai.
Kalau dalam pengambilan gambar ini sutradara dibantu oleh juru kamera yang baik, sutradara cukup memberitahukan saja kamera kepada juru kamera, gambar yang bagaimana komposisinya, lingkup pengambilannya adalah LS, MS, atau CU, sudut pengambilannya apakah low, high, atau eye level . yang melaksanakan pengambilan juru gambarnya.
Apabila pengambilan gambar telah selesai, film tersebut perlu dibawa ke laboraturium film untuk dikembangkan (develop,process) . Apabila dapat mengembangkan sendiri tentu saja hal itu boleh dilakukan. Akan tetapi, perlu diingat bahwa kalau jumlah film hanya sedikit, biaya mengembangkan sendiri akan jauh lebih mahal dari pada kalau dibawa ke laboraturium film. Personalnya , obat pengembang film itu akan rusak jika tidak segera dihabiskan. Padahal obat itu tidak dapat dibeli dalam jumlah kecil.
Editing Film Bingkai
Setelah dikembangkan, film tersebut perlu diedit. Pada bagian terdahulu pernah dibicarakan bahwa dalam mengambil gambar kita perlu menggunakan rasio yang cukup. Dengan demikian, untuk setiap objek yang diambil, kita akan mempunyai beberapa gambar. Dalam editing, gambar-gambar itu diperbandingkan dan kita ambil yang paling baik dan paling sesuai program.
Editing dilakukan dengan menggunakan meja editing. Meja editing adalah sebuah meja yang bagian atasnya dibuat dari plastik buram. Bentuk meja itu seperti neon. Di bawah meja dipasang lampu yang cukup terang. Sehingga kalau lampu dinyalakan, bagian atas meja itu akan menjadi terang. Di atas meja itu juga diletakkan sebuah papan plastik yang dipasang miring, kira-kira membuat sudut 120o dengan bagian atas meja. Papan plastik ini dibuat dari bahan yang sama seperti bagian atas meja tadi. Di bagian belakang papan plastik juga dipasang lampu yang cukup terang. Pada permukaan papan plastik miring ini diletakkan sekat-sekat memanjang, tempat meletakkan film supaya tidak jatuh.
Film yang telah selesai dikembangkan dipotong-potong dan diletakkan di atas meja. Jika lampu dinyalakan, kita dapat melihat gambar pada film tadi dengan jelas. Kalau gambar yang sama tadi dijajar-jajar di atas meja, kita dapat membandingkannya dengan mudah dan dapat memilih gambar yang paling baik.
Memberi Bingkai Film
Film bingkai supaya mudah diproyeksikan ke layar harus diberi bingkai. Bingkai ini ada yang dibuat dari plastik ada pula yang dibuat dari karton. Bingkai ini berukuran 5 x 5 cm. Bagian dalam berjendela dengan ukuran 2 x 3 cm. Film yang telah dipotong-potong tadi dipasang tepat pada jendela bingkai lagi. Dengan begitu, tepi film terjepit dua bingkai, sedangkan bagian yang bergambar terpasang rapi di jendela.
Bingkai tersebut harus dikunci agar tidak terlepas. Pda bingkai karton, yang digunakan sebagai pengunci ialah lem. Sementara itu, pada bingkai plastik, sudah ada lubang-lubang penguncinya. Apabila lubang-lubang itu ditekan dengan kuat, bingkai itu akan melekat erat satu sama lainnya, sehingga film yang telah dipasang tidak dapat bergeser-geser lagi. Film-film yang telah diberi bingkai diletakkan di papan yang miring pada meja editing itu. Film-film itu diletakkan dengan urutan sesuai naskah yang telah disusun. Setelah tersusun dengan urut, bingkai tadi diberi nomor.
Cara menuliskan nomor adalah sebagai berikut.
Film bingkai tadi dipegang sehingga bagian yang mengkilat menghadap kita. Gambar diputar sehingga kepala gamabar berada di bawah. Selanjutnya, tuliskan nomor itu di susut kanan atas dari bingkai film. Penomoran ini perlu dilakukan secara demikian, karena kalau kita akan menyajikan film dengan menggunakan proyektor, film tersebut harus dipasang terbalik.
Merekam Narasi
Narasi, musik, dan sound effect pada program film bingkai harus sesuai dengan visualnya. Oleh karena itu, dalam merekam bagian audio dari program film bingkai, urutan visual itu harus disesuaikan. Di smping itu, perlu juga diingat bahwa dalam penyajiannya, fim bingkai harus diproyeksi ke layar satu per satu secara berurutan. Pergantian dari bingkai yang satu ke bingkai yang lain itu memakan waktu beberapa detik. Perlu diusahakn supaya narasi berhenti sejenak pada saat pergantian film itu terjadi.
Sebaiknya, setiap kali gambar baru muncul di layar, penonton diberi waktu beberapa detik untuk membaca makna visualisali. Setelah itu, informasi yang sekiranya sukar diperoleh dari gambaran visual itu diperjelas dengan narasi. Untuk memudahkan penyajian, setiap kali uraian yang berkaitan dengan gambar tertentu, selesai disampingkan, perlu doberikan bunyi bel. Bel sebagai tanda bahwa film bingkainya perlu diganti dengan urutan berikutnya. Tanda bel yang diberikan di sini cukup pendek saja, misalnya berbunyi tut atau tet atau ting. Setiap kali mendengar tanda bel, orang yang menyajikan film bingkai ini harus menekan tombol tertentu. Hal ini dilakukan untuk mengganti film bingkainya.
Dengan menggunakan alat perekam khusus, pergantian gambar film bingkai ini dapat diatur secara otomatis. Dalam hal ini, tanda bel tersebut tidak diperlukan lagi. Akan tetapi, perlu diingat bahwa dalam penyajiannya nanti harus juga digunakan alat pemutar kaset audio yang khusus juga.

EVALUASI
Sebutkan tiga kelompok personil yang terlibat dalam kegiatan produksi!
Sebutkan pembagian tugas dalam produksi
Sutradara
Kerabat kerja
Pemain
Apa yang dimaksud dengan:
Latihan kering
Latihan basah
Sebut dan jelaskan jenis produksi film bingkai!
Sebutkan alat-alat yang diperlukan dalam produksi bagian visual!
Apa peran kerabat kerja dalam produksi film bingkai!
Apa yang harus dilakukan pada pelaksanaan produksi jika objek yang di potret kecil?
Jelaskan tentang meja editing!
Pada pemberian bingkai film, jelaskan cara menuliskan nomor!
Apa keuntungan merekam narasi dengan menggunakan alat perekam khusus?

DAFTAR PUSTAKA

Sadiman, Arif S., dkk. 2011. Media Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.
http://vythanobytha.blogspot.com/p/penulisan-naskah-media-pembelajaran.html online: 15 September 2012.12:34


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: